Pada abad 18 Perang Diponegoro sedang berkecamuk sedangkan Desa Mojorejo kecamatan Wates Kabupaten Blitar yang kita kenal saat ini belum terbentuk, kondisi dan keberadaannya masih Hutan belantara belum pernah ada orang yang menjamah dan mengenal daerah tersebut.
Seiring dengan pecahnya perang Diponegoro yang terjadi di Propinsi Jawa Tengah waktu itu membuat orang-orang sakti dan pengikut Pangeran Diponegoro terpecah dan berpencar keberbagai penjuru, bahkan tidak luput dalam pelariannya menuju kewilayah timur. Konon kabarnya ada seorang yang Waskito dalam pelariannya masuk kewilayah timur dan dalam pelariannya menghindari kejaran tentara belanda untuk bersembunyi dan menyusun strategi, menyusun kekuatan, namun pada akhirnya beliau memutuskan untuk menetap dan mencoba dalam kehidupan yang baru diwilayah yang baru.
Dalam pelariannya beliau mencari tempat yang strategis dan aman buktinya dapat kita lihat bahwa tempat yang dipilihnya jauh dari jangkauan Belanda dan tempatnya adalah suatu Lembah yang dikelilingi perbukitan sebelah timur ada perbukitan/lereng gunung kendheng yang juga terdapat jurug tundho songo sebelah barat ada gunung bahudipo dan sebuah goa dan sebelah selatan ada grojogan sewu dan gunung Buceng yang konon ceritanya semuanya itu menyimpan sebuah misteri. Kemudian dalam rangka memulai hidup yang baru beliau diikuti oleh keluarga, teman maupun saudaranya/pengikutnya. Sehingga beliau memutuskan untuk menetap dan tinggal didaerah Mojorejo yang kita kenal saat ini, dengan demikian maka kita yakini bahwa Beliau adalah orang yang pertama kali babat dan membuka kawasan tanah bumi pertiwi desa mojorejo yang kita kenal saat ini sedangkan Beliau adalah Raden Mas Bagus Kliwon.
Hal ini dapat kita buktikan dengan adanya tempat keramat/Danyangan yang dikeramatkan oleh masyarakat desa Mojorejo bahwa ditengah-tengah desa Mojorejo terdapat Pohon yang menjulang tinggi (pohon gayam) dengan umur ratusan tahun dan juga pohon beringin yang tinggi besar dimana tempat ini sering digunakan oleh warga ketika sedang melakukan ritual-ritual secara kusus misalnya Bersih Desa atau orang punya hajat dan kepentingan-kepentingan lainnya, disamping itu juga terdapat sumber air yang besar yang digunakan sumber kehidupan waktu itu dan sampai sekarang. meskipun saat ini budaya dan agama masyarkat sudah jauh lebih baik namun sejarah tidak bisa kita tinggalkan dan kita lupakan begitu saja.
Sedangkan munculnya sebuah nama Mojorejo adalah sebagai berikut dulu sekitar kediaman Beliau (Eyang Raden Mas Bagus Kliwon) banyak ditumbuhi Pohon Mojo namun anehnya pohon tersebut banyak yang Roboh maka dengan kejadian itu Beliau memberi tenger/sebutan daerah tersebut dengan nama Mojo Rubuh. Tidak lama kemudian setelah diberikan tenger pada daerah tersebut kejadian aneh terjadi dimana orang-orang yang tinggal didaerah tersebut terserang penyakit/kena pageblug. Mengingat beliau adalah orang yang waskito(ngerti sakdurunge winarah) maka dengan kejadian itu Beliau berusaha agar mendapatkan pertolongan dari yang Maha Kuasa, pada akhirnya beliau juga mendapat Wisik /petunjuk dari yang Maha Kuasa agar nama Mojo Rubuh diganti dengan nama Mojorejo.
Sejak saat itulah orang-orang yang mendiami wilayah Mojorejo menjadi aman, sejahtera, makmur, tenang, tentram dan mulai saat itulah nama Mojorejo mulai dikenal, apa lagi dipimpin oleh orang yang arif,Bijaksana dan penuh kesabaran serta tidak sombong maka patutlah kita sebagai masyarakat Mojorejo wajib mengikuti jejak Beliau.
Pada jaman itu belum ada yang namanya kepala desa yang ada hanyalah pemimpin atau orang yang dituakan yang mana beliau sangat dihormati, disegani dan dipatuhi karena kepemimpinannya yang sangat tegas dan penuh wibawa. Sementara saat itu belum terbentuk sebuah desa maka dalam unsur kewilayahannya dan sistem pemerintahannya tergabung dengan wilayah Desa Ngadri sampai Beliau (Eyang Raden Mas Bagus Kliwon) wafat, namun petilasannnya (makam) tidak diketahui oleh masyarakat sampai saat ini.
Dengan perkembangan jaman dan bertambahnya jumlah warga maka untuk wilayah selatan (Mojorejo) diberikan kuasa untuk mengelola dan menata wilayahnya sendiri dengan ditunjuknya seorang tokoh yang disegani dan mampu manjadi pemimpin serta menata diwilayah tersebut yaitu Beliau Eyang Dipoyono yang beliau adalah bersal dari mentaraman dan memimpin Mojorejo sampai wafat, namun makamnya juga tidak diketahui oleh masyarakat umum sampai sekarang. Beliau memimpin mojorejo dari tahun 1892 sampai tahun 1902. Bersamaan dengan perkembangan jumlah warga maka dibukalah wilayah selatan yang selanjutnya disebut dengan banyuurip karena, daerah tersebut muncul sebuah sumber mata air yang besar dan tidak pernah mati sepanjang tahun. Pada jaman/era Eyang Dipoyono Mojorejo belum memiliki tempat secara kusus untuk rembug desa maka yang digunakan untuk rembug tersebut adalah kediaman beliau yaitu rumah yang tempatinya (saat ini di Wilayah RT. 20 RW. 04) kurang lebihnya diarea tanah Bpk. Sujianto dan Bpk. Ripin. pada saat itu Mojorejo masuk wilayah Kemantren Binangun.
Setelah beliau (Eyang Dipoyono) wafat maka kepemimpinan mojorejo dipegang oleh Eyang Wonokarto atau yang di kenal dengan sebutan Lurah Demang artinya beliau adalah orang yang pinunjul ing samubarang artinya beliau orang yang arif serta bijaksana penuh wibawa tapi juga rendah hati. Eyang Wonokarto memimpin dari tahun 1902 sampai 1915, yang mana beliau berasal dari Banyuurip, sehingga pusat Pemerintahannya dipindahkan ke Banyuurip sampai sekarang.